SIDOARJO – Koperasi Konsumen Karyawan (Kokar) Tjiwi Kimia mencatat pertumbuhan posisi keuangan yang solid dengan total aset sebesar Rp 194,3 miliar. Sejak berdiri pada tahun 1989, koperasi yang awalnya digagas sebagai penyedia layanan simpan pinjam sederhana ini telah bertransformasi menjadi ekosistem bisnis multisektor.
Selain pengelolaan aset yang besar, pihak koperasi memproyeksikan pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) tahun buku ini menembus angka lebih dari Rp 10 miliar.
Sekretaris Umum Kokar Tjiwi Kimia, Beny Haryawan, menyatakan bahwa sekitar 4.900 hingga 5.000 orang anggota menyetor seluruh modal organisasi melalui simpanan mereka yang merupakan karyawan PT Tjiwi Kimia dan kemudian mengembangkan penguatan modal tersebut melalui kemitraan strategis dengan sektor perbankan untuk memperluas jangkauan diversifikasi usaha di berbagai lini.
“Koperasi kita berdiri sejak 1989 dan kini kita patut mensyukurinya. Seluruh pengurus berhasil membawa organisasi ini tumbuh dari modal yang sangat kecil hingga aset tercatat di angka Rp 194,3 miliar,” ujar Beny, Kamis (05/03/2026).
Beny menjelaskan, Kokar Tjiwi Kimia kini mengelola unit bisnis yang luas, mulai dari sektor retail yang bekerja sama dengan jaringan Alfamart dan Indomaret. Di sektor jasa, koperasi merambah bidang otomotif melalui layanan cuci mobil dan pra-service, persewaan kendaraan, hingga menjadi penyedia tenaga kerja (outsourcing).
“Kami juga masuk ke sektor industri dengan menangani penjualan barang bekas serta menjadi penyuplai kertas bekas kembali ke pabrik. Diversifikasi ini memastikan struktur pendapatan koperasi tetap kuat dan tidak hanya bergantung pada satu unit usaha,” lanjutnya.
Dalam bidang kesehatan, Kokar Tjiwi Kimia mengoperasikan Rumah Sakit Citra Medika dan Poliklinik Ciko Prima Husada yang juga melayani masyarakat umum melalui skema BPJS Kesehatan. Koperasi melakukan ekspansi ini untuk memberikan akses kesehatan prima sekaligus memperkuat posisi ekonomi koperasi di tengah publik.
“Kami telah membuka unit kesehatan untuk umum. Kami ingin image bahwa fasilitas koperasi hanya untuk karyawan itu hilang, karena mitra seperti BPJS telah mengakui kualitas layanan kami,” kata Beny.

Terkait tata kelola, Kokar Tjiwi Kimia memegang predikat sebagai Koperasi Teladan Nasional yang pernah mendapat penghargaan dari Presiden RI. Pengurus menjaga akuntabilitas organisasi melalui audit profesional oleh Akuntan Publik serta pengawasan ketat dari internal dan dewan penasihat.
“Akuntan publik mengaudit seluruh kegiatan, terutama keuangan dan perpajakan. Kami mengikuti regulasi pemerintah secara patuh karena Rapat Anggota Tahunan (RAT) tetap memegang kekuasaan tertinggi dalam pengambilan keputusan organisasi,” tegasnya.
Anggota merasakan langsung manfaat keberadaan koperasi ini melalui fasilitas belanja bulanan dengan sistem “ambil sekarang bayar bulan depan”.
Koperasi memberikan plafon belanja hingga Rp 1,3 juta per bulan kepada anggota di toko-toko koperasi, kemudian memotongnya melalui sistem gaji pada bulan berikutnya untuk menjamin ketersediaan kebutuhan pokok karyawan tanpa membebani arus kas harian mereka.
“Prinsipnya adalah kemudahan. Koperasi harus menjadi alat mencari kebaikan dan kemakmuran bersama. Kita mudahkan anggota mendapatkan pangan dan layanan kesehatan, sehingga mereka bisa fokus bekerja dengan tenang,” tutur Beny.
Beny menyebut bahwa keberhasilan mengelola ribuan anggota dan aset ratusan miliar sangat bergantung pada integritas pengelola. Ia menekankan bahwa koperasi benar-benar bisa menjadi sokoguru ekonomi selama pengurus mengelolanya dengan benar.
“Tanpa kejujuran dari pengurus, niat mulia untuk menyejahterakan anggota justru bisa menjadi tempat tergelincirnya para pengelola,“ pungkasnya.











