SIDOARJO – Koperasi Karyawan Tjiwi Kimia terus memperkuat lini bisnis ritel mereka melalui gerai Papyrusmart guna memenuhi kebutuhan harian ribuan pekerja di lingkungan pabrik. Fokus utama pengembangan unit usaha ini terletak pada perputaran arus kas yang cepat dan kebijakan harga yang kompetitif dibandingkan dengan jaringan ritel modern nasional.
Manager Koperasi Karyawan Tjiwi Kimia, Tatok Wibowo, menjelaskan bahwa koperasi menjalankan bisnis ritel yang memiliki keunggulan pada sistem pembayaran ke pemasok dan skema penjualan tunai. Menurutnya, pengurus mengelola margin secara tepat agar unit usaha tersebut tetap berkelanjutan di tengah persaingan pasar.
“Bisnis ritel itu sebetulnya memutar uang orang. Kami mendapat term of payment (TOP) seminggu atau satu bulan, sementara barang seperti beras dan kebutuhan lain langsung laku terjual secara tunai. Prinsipnya ada pada margin, tinggal kita posisikan mau di angka 10, 15, atau 20 persen,” ujar Tatok, Kamis (05/03/2026).
Tatok menambahkan bahwa pengurus koperasi melakukan pengawasan ketat terhadap harga jual di Papyrusmart. Pengurus melakukan hal ini untuk memastikan harga barang tetap terjangkau dan tidak membebani anggota koperasi.
“Kalau ada barang yang sedikit kemahalan, pengurus pasti langsung kontrol. Bagi saya mahal atau murah itu relatif, tapi kami sadar masyarakat dan karyawan sangat sensitif terhadap harga,” katanya.
Selain menjaga harga, Papyrusmart juga menangkap peluang dari perubahan regulasi internal perusahaan. Selama sepuluh tahun terakhir, pihak manajemen mulai mengizinkan operasional minimarket di dalam area pabrik, dengan catatan tidak menjual barang-barang tertentu yang kebijakan perusahaan larang.
“Dulu ada regulasi tidak boleh ada minimarket di pabrik karena fokus pada bisnis kimia. Namun, sepuluh tahun terakhir manajemen sudah memperbolehkannya dengan syarat tertentu, misalnya kami tidak menjual rokok di dalam area tersebut,” tutur Tatok.
Kini, tren belanja karyawan menunjukkan pergeseran ke arah konsumsi produk makanan siap saji dan kue basah. Produk-produk ini menjadi komoditas dengan tingkat perputaran tertinggi (fast-moving) karena menjadi pilihan utama karyawan untuk sarapan maupun camilan saat jam istirahat.
“Saat ini idola karyawan justru makanan atau kue basah. Mereka yang belum sarapan atau ingin jajan pasti mencarinya di pagi hari. Harganya juga normal, antara Rp 2.000 hingga Rp 3.000, sehingga perputarannya sangat kencang dibanding produk lainnya,” pungkasnya.











