SURABAYA — Suasana berbeda terasa di Midtown Residence Surabaya, Senin (2/12), saat gelaran peringatan Hari Disabilitas Internasional dikemas dengan cara yang lebih humanis dan kreatif. Melalui kegiatan bertema “Warna Warni Tanpa Suara: Kopi Tutur Rasa x Tutur Mata”, acara ini menghadirkan ruang kolaborasi yang memperlihatkan kemampuan, karya, dan ekspresi penyandang disabilitas melalui kopi, fotografi, serta literasi.
Dalam rangkaian kegiatan ini, para barista Tuli dari Kopi Tutur Rasa menyajikan kopi sambil membagikan pengalaman personal mereka melalui bahasa isyarat. Sementara itu, penyintas disabilitas yang tergabung di komunitas Tutur Mata menghadirkan pameran foto yang menggambarkan cara mereka memaknai dunia melalui visual tanpa narasi suara.
Selain pertunjukan kreatif, acara ini dilengkapi Talkshow Inklusif, Bedah Buku Tutur Mata, hingga sesi belajar bahasa isyarat Bisindo yang dipandu lima barista Tuli: Akbar, Dandi Wijaya, Della, Devi, dan Rio.
Salah satu mentor fotografi Tutur Mata, Mamuk, mengatakan kegiatan ini bukan hanya memamerkan karya, tetapi juga membuka ruang dialog agar publik memahami disabilitas bukan sebagai keterbatasan.
“Setiap foto punya cerita. Mereka mungkin tidak menyampaikan dengan suara, tapi visual mereka bicara sangat lantang,” ungkapnya.
Para peserta juga mendapat kesempatan melihat langsung karya fotografer disabilitas seperti Septian, Kiking, Omay, Dewa, Jacky, Pina, dan Kori yang sebelumnya juga dipresentasikan dalam Jakarta International Photo Festival (JIPFest) di Taman Ismail Marzuki.
Perwakilan Midtown Residence Surabaya, Rina Pratiwi, menyebut acara ini menjadi langkah awal untuk menghadirkan ruang publik yang lebih ramah dan setara.
“Kami ingin menunjukkan bahwa inklusi bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata yang bisa dimulai dari hal sederhana, termasuk melalui penyediaan ruang apresiasi seperti ini,” ujarnya.
Acara ini dihadiri berbagai pihak, mulai komunitas penyandang disabilitas, akademisi dari UNESA, UNITOMO, dan STIKOSA, hingga perwakilan pemerintah. Salah satunya, Kepala UPTD Kampung Anak Negeri Dinsos Surabaya, Eva Lusiana, yang menyampaikan dukungannya.
“Gerakan seperti ini penting. Kita butuh semakin banyak ruang di mana teman-teman disabilitas bisa berkarya, dihargai, dan dilibatkan,” tegasnya.











